7 Haji

Haji udung, Haji Idi, Haji Entis, Haji Yusup, Haji Usen, Haji Roni, Haji Amidi, Bapak-bapak haji inilah yang sejatinya kami temui ketika  akan menjajaki proyek Agritourism berskala Internesyenel di teritori Subang Jawabarat. Kawasan terintegrasi yang terdiri dari Bungalow, Country Club, Education city, Research Institute, Peternakan, dan Pertanian Organik yang berbaur dengan masyarakat dengan tetap mempertahankan local wisdom layaknya Milford Sound di Selandia Baru. Tapi bukan konsep Agri ini yang akan saya coba persepsikan.

ilustrasi-Haji-520x245

Haji, ya empat kata ini  yang mampu menaikan ‘strata’, juragan-juragan di pedesaan sudah sangat lumrah dan familiar memakai gelar ini untuk sapaan maupun penulisan di surat undangan, Rukun Islam kelima yang paling ‘berat’ dalam memaknainya karena dianggap sudah mampu mengimplementasikan Rukun Islam ke satu sampai keempat.

Hujjaj bentuk Plural dari Haji yang berarti orang-orang menziarahi, mengunjungi, tentu saja yang dikunjunginya adalah bangunan-bangunan yang sarat akan makna spritual yang dapat menambah ketakwaan dan kemurnian jiwa berlipat-lipat bagi orang yang memaknai makna spiritual dari bangunan-bangunan sejarah yang didatanginya, Ka’bah, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, Muzdalifah adalah beberapa diantaranya.

Ka’bah sebagai simbol persatuan umat, Shafa dan marwah sebagai saksi sejarah perjuangan seorang Ibu yang tanpa lelah, tanpa putus asa, berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anaknya, Wukuf di Arafah yang bermakna ma’rifah berdiam dan introspeksi mengenal diri sendiri, menghilangkan rasa ‘keakuan’, merasakan unsur Ruh Ilahi didalam diri, memahami tujuan hidup di Bumi yang fana ini, Lempar Jumroh di Mina sebagai simbol ‘melemparkan’ sifat-sifat setan yang ada di Jiwa, Mabit di Muzdalifah yang merupakan simbol rasa Syukur, merasakan keAgungan dan Kebesaran Allah SWT, meresapi sepenuh hati bahwa hanya Allah SWT yang menguasai Alam Semesta, seluruh Dimensi.

Sebegitu ‘dalam’nya makna berhaji, pantas saja saat masa Pemerintah Kolonial Belanda  mangharuskan penyematan gelar Haji didepan nama orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji dan kembali ke Tanah Air, bahkan mengkhususkan gerbang utama jalur lalulintas penghajian di Indonesia guna mengawasi dan memantau gerak-gerik aktivitas orang-orang yang sudah berangkat ke Mekah, sepertinya Belanda memahami makna spiritual yang terkandung di pelaksanaan Ibadah Haji  dan mereka cukup dibuat ketir oleh tokoh-tokoh pembawa perubahan di Nusantara sepulang berhaji, oleh karenanya penyematan gelar ‘H’ memudahkan mereka melacak orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

20-jalan-sufi-65-638

Bagaimana dengan sekarang, hmm ada 150.000 orang lebih yang berangkat Haji saban tahunnya dari Tanah Air, terbanyak dari semua Negara di Bumi ini,  tidak terbayang besarnya PERUBAHAN yang dibawa ke Tanah Air oleh para Haji yang telah meresapi, memaknai simbol-simbol Spiritual kehajiannya yang kemudian ditularkan kepada Masyarakat indonesia lainnya.., tapi..ya  semoga saja saya yang memang tidak terlalu peka merasakan perubahan yang terjadi.

Unik memang dari sejumlah Negara hanya Indonesia dan negara tetangga yang menyematkan gelar H didepan namanya, tradisi yang sudah berkembang secara evolutif dan tidak untuk disalahkan, ya anggap saja sebagai warisan Budaya, budaya kolonial lebih tepatnya 😉 yang pasti ber Haji adalah sebuah manifestasi puncak ketaatan kepada sang Maha Pencipta, bukti Pengabdian diri kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta Allah SWT, dan yang terpenting bagaimana agar makna besar spiritual berhaji bisa terimplan, terimplementasikan untuk Perubahan besar terjadi di Nusantara ini, Semoga saja.

Note : Edisi Sok Alim Mood

Advertisements

Dinamis tak Statis

Manusia itu dinamis setiap saat berubah

Diera Ekonomi Digital saat ini perubahan yang serba cepat adalah suatu hal yang lumrah, Seorang Entrepreneur dalam bidang apapun itu, bisa berubah secara cepat, cepat kaya atau miskin mendadak adalah suatu hal yang wajar.

Bukan lagi saatnya menilai seseorang berdasarkan proses ‘formal’, keberlimpahan itu perlu waktu yang lama, passive income itu perlu waktu yang tidak sebentar seolah-olah terbantahkan oleh era Bumi saat ini

Menjalankan dan menikmati proses kedinamisan sangatlah mengasikan bagi yang berjiwa optimis, jatuh bangun lagi, jatuh lagi bangun lagi, salah satu cara memanfaatkan peluang dunia yang sudah berubah ini adalah konsisten dan tidak serakah, sudah terlalu banyak pelajaran akan timbulnya ‘kehancuran’ akibat keserakahan, krisis Amerika tahun 2008 adalah salahsatunya.