oh Nusantaraku

12279012_500873930087377_3078939825935751007_n

Pemakluman sudah menjadi sesuatu yang langka di Bumi ini

Cap sesat dan kafir dengan mudahnya dilontarkan oleh kaum yang mengaku ahli ibadah

Agen Pemecah belah Umat ‘bergentayangan’ disetiap sudut

Tabayyun dianggap suatu yang tabu

Debat sudah dianggap ‘wajar’ ketika sebuah kemenangan diatas kebenaran, yang paling ngotot dialah yang benar

Merasa paling benar, merasa paling pandai, dan merasa paling Islami

Seakan-akan Surga adalah miliknya

Membenturkan pemahaman antar umat agar perpecahan terjadi demi Kepentingan golongan, itulah misinya

Berfikir kritis dan memaknai makna spritual adalah kunci untuk menjaga Kebersamaan Nusantara yang adiluhung, ya Nusantara yang satu

Sampurasun

 

 

 

Kapanikah ?

15712947525_f23170db01

X   :    Kapanikah ?

Y    :   Ya lo duluan

X    :   Gw kan udah

Y     :   lho kok gak keliatan bahagia ?

X     :   $*&^%$#^&%)(<>

A    :   Kapanikah ?

Y    :   Aku masih mencari seseorang yang beruntung mendapatkanku 😀

B    :   Kapanikah

Y     :   Nunggu kamu single, eaaa

Jawaban itu yang pernah saya lontarkan ke sipenanya absurd.

Nasib hidup di Indonesia adalah kebanyakan orangnya yang hobi kepo sama urusan hidup orang lain, termasuk urusan yang paling sakral diplanet bumi ini, yes Nikah..gimana gak sakral 5 kata ini yang menurut saya adalah satu-satunya momen di Dunia yang bisa mengkonversi hukum berbalik 180°, Ikrarnya seseorang untuk ‘mengambil alih’ kewajiban orang tuanya dan dilimpahkan kepadanya, Ikrarnya Seseorang untuk menyanggupi Pertanggungjawaban pasangannya di Masanya dihadapan Sang Maha Pencipta, Ikrarnya Seseorang untuk menerima konsekuensi baru dari Tuhannya, Ikrarnya Seseorang untuk saling memahami memaklumi semua kekurangan dan setiap perbedaan antar keduanya, Ikrarnya Seseorang untuk berlaku Adil kepada Orang Tua Kandung dan Orang Tua Pasangan, Ikrarnya dua makhluk untuk menyanggupi dilimpahkannya ujian berupa anak untuk dididiknya menjadi wakilNya..sok alim mood..

Berat memang tapi bukan untuk pembenaran menundanya, justru sebagai penyemangat untuk memahami dan mempelajari ilmunya, karena bagaimanapun juga regenerasi penerus kehidupan di Bumi harus tetap berjalan, dan satu-satunya cara ya Nikah Sesuai yang di contohkan Nabi Muhammad SAW. Tidak ada yang membenarkan seseorang untuk terus-terusan menjomblo karena Jomblo adalah Nasib sedangkan single adalah pilihan 🙂

nikah-bukan-lomba-lari

Banyak diantara WNI yang udah nikah kepedean hidupnya lebih bahagia ketimbang orang lain yang masih jomblo (Single), konsep hidup itu gak bisa digeneralisir, hanya karena hidup orang lain berbeda dengannya maka langsung dicap berkebalikan dengannya. Setiap orang itu unik, Allah SWT menciptakan makhluknya berupa manusia berbeda satu dengan yang lainnya, yang terpenting kita harus melaksanakan misi hidup di Dimensi ini sesuai dengan kapasitas yang diberikannya, menorehkan kebaikan dan kebermanfaatan sebelum tiba harinya.

jadi, kapanikah ?

Tahun Depan!

 

 

 

 

 

7 Haji

Haji udung, Haji Idi, Haji Entis, Haji Yusup, Haji Usen, Haji Roni, Haji Amidi, Bapak-bapak haji inilah yang sejatinya kami temui ketika  akan menjajaki proyek Agritourism berskala Internesyenel di teritori Subang Jawabarat. Kawasan terintegrasi yang terdiri dari Bungalow, Country Club, Education city, Research Institute, Peternakan, dan Pertanian Organik yang berbaur dengan masyarakat dengan tetap mempertahankan local wisdom layaknya Milford Sound di Selandia Baru. Tapi bukan konsep Agri ini yang akan saya coba persepsikan.

ilustrasi-Haji-520x245

Haji, ya empat kata ini  yang mampu menaikan ‘strata’, juragan-juragan di pedesaan sudah sangat lumrah dan familiar memakai gelar ini untuk sapaan maupun penulisan di surat undangan, Rukun Islam kelima yang paling ‘berat’ dalam memaknainya karena dianggap sudah mampu mengimplementasikan Rukun Islam ke satu sampai keempat.

Hujjaj bentuk Plural dari Haji yang berarti orang-orang menziarahi, mengunjungi, tentu saja yang dikunjunginya adalah bangunan-bangunan yang sarat akan makna spritual yang dapat menambah ketakwaan dan kemurnian jiwa berlipat-lipat bagi orang yang memaknai makna spiritual dari bangunan-bangunan sejarah yang didatanginya, Ka’bah, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, Muzdalifah adalah beberapa diantaranya.

Ka’bah sebagai simbol persatuan umat, Shafa dan marwah sebagai saksi sejarah perjuangan seorang Ibu yang tanpa lelah, tanpa putus asa, berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anaknya, Wukuf di Arafah yang bermakna ma’rifah berdiam dan introspeksi mengenal diri sendiri, menghilangkan rasa ‘keakuan’, merasakan unsur Ruh Ilahi didalam diri, memahami tujuan hidup di Bumi yang fana ini, Lempar Jumroh di Mina sebagai simbol ‘melemparkan’ sifat-sifat setan yang ada di Jiwa, Mabit di Muzdalifah yang merupakan simbol rasa Syukur, merasakan keAgungan dan Kebesaran Allah SWT, meresapi sepenuh hati bahwa hanya Allah SWT yang menguasai Alam Semesta, seluruh Dimensi.

Sebegitu ‘dalam’nya makna berhaji, pantas saja saat masa Pemerintah Kolonial Belanda  mangharuskan penyematan gelar Haji didepan nama orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji dan kembali ke Tanah Air, bahkan mengkhususkan gerbang utama jalur lalulintas penghajian di Indonesia guna mengawasi dan memantau gerak-gerik aktivitas orang-orang yang sudah berangkat ke Mekah, sepertinya Belanda memahami makna spiritual yang terkandung di pelaksanaan Ibadah Haji  dan mereka cukup dibuat ketir oleh tokoh-tokoh pembawa perubahan di Nusantara sepulang berhaji, oleh karenanya penyematan gelar ‘H’ memudahkan mereka melacak orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

20-jalan-sufi-65-638

Bagaimana dengan sekarang, hmm ada 150.000 orang lebih yang berangkat Haji saban tahunnya dari Tanah Air, terbanyak dari semua Negara di Bumi ini,  tidak terbayang besarnya PERUBAHAN yang dibawa ke Tanah Air oleh para Haji yang telah meresapi, memaknai simbol-simbol Spiritual kehajiannya yang kemudian ditularkan kepada Masyarakat indonesia lainnya.., tapi..ya  semoga saja saya yang memang tidak terlalu peka merasakan perubahan yang terjadi.

Unik memang dari sejumlah Negara hanya Indonesia dan negara tetangga yang menyematkan gelar H didepan namanya, tradisi yang sudah berkembang secara evolutif dan tidak untuk disalahkan, ya anggap saja sebagai warisan Budaya, budaya kolonial lebih tepatnya 😉 yang pasti ber Haji adalah sebuah manifestasi puncak ketaatan kepada sang Maha Pencipta, bukti Pengabdian diri kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta Allah SWT, dan yang terpenting bagaimana agar makna besar spiritual berhaji bisa terimplan, terimplementasikan untuk Perubahan besar terjadi di Nusantara ini, Semoga saja.

Note : Edisi Sok Alim Mood

Dinamis tak Statis

Manusia itu dinamis setiap saat berubah

Diera Ekonomi Digital saat ini perubahan yang serba cepat adalah suatu hal yang lumrah, Seorang Entrepreneur dalam bidang apapun itu, bisa berubah secara cepat, cepat kaya atau miskin mendadak adalah suatu hal yang wajar.

Bukan lagi saatnya menilai seseorang berdasarkan proses ‘formal’, keberlimpahan itu perlu waktu yang lama, passive income itu perlu waktu yang tidak sebentar seolah-olah terbantahkan oleh era Bumi saat ini

Menjalankan dan menikmati proses kedinamisan sangatlah mengasikan bagi yang berjiwa optimis, jatuh bangun lagi, jatuh lagi bangun lagi, salah satu cara memanfaatkan peluang dunia yang sudah berubah ini adalah konsisten dan tidak serakah, sudah terlalu banyak pelajaran akan timbulnya ‘kehancuran’ akibat keserakahan, krisis Amerika tahun 2008 adalah salahsatunya.