Potensi Wow E commerce

W o w, sekiranya tiga kata itu yang patut disematkan untuk industri E-Commerce di Indonesia, bagaimana tidak potensi pajak dari industri ini saja bisa mencapai 10T lebih (The Center for Welfare Studies), ya itu baru pajaknya, bagaimana dengan nilai bisnis transaksinya, hmm

Tidak salah ketika banyak yang beranggapan Indonesia adalah ceruk pasar yang sangat menarik, pertumbuhan Startup, UKM maupun yang estabilished tumbuh berkali lipat setiap tahunnya, bahkan beberapa dunia sudah mulai membandingkan Indonesia dengan Tiongkok dan Brazil, ya dua negara itu adalah diantara dari berbagai negara yang sudah berhasil menciptakan ekosistem e-commerce yang mumpuni.

anakdesa

Laporan, Data, dan Riset dari beberapa Lembaga Riset maupun Perusahaan Konsultasi manajemen menjabarkan bahwa potensi pasar e-commerce di Indonesia sangatlah besar, dengan populasi 250 juta yang hampir sepertiganya sudah bisa mengakses internet dan petumbuhan kelas menengah keatas yang terus menggeliat menjadikan Indonesia menjadai sasaran empuk investor, VC, maupun perusahaan E-Commerce asing berekspansi mengambil ceruk pasar yang belum terjamah maupun berkompetisi secara langsung dengan pemain lokal.

Saya mencoba menelitik penjabaran dari idEA yang mengungkapkan  penetrasi internet di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 102 juta namun hanya 7% yang berbelanja online, jauh jika dibandingkan dengan Tiongkok maupun Asia Pasifik yang mencapai 32%, namun menurut saya angka tersebut tidak merepresentasikan pertumbuhan secara organik kedepannya, indikatornya beberapa perusahaan asing sudah mulai getol memberikan funding kepada Startup-Startup lokal untuk berpenetrasi, tidak tanggung-tanggung ratusan juta dolar USD sudah digelontorkan oleh Venture Capital asing, Tokopedia yang mendapatkan Series E Funding sebesar $100 juta dari Sequoia Capital dan perusahaan holding Softbank seolah-olah menepis semua keraguan beberapa VC lokal maupun asing terhadap Startup lokal serta pengakuan bahwa Indonesia adalah market yang luas. terlebih yang mendanainya adalah VC terkemuka yang sudah mendanai beberapa perusahaan Teknologi sukses, google, Cisco, apple adalah tiga dari beberapa perusahaan yang didanai oleh Softbank dan Sequoia.

Page-Market-data-ecommerce-chart-4

Laporan dari perusahaan Konsultasi Manajemen A. T. Kearney menjabarkan akan potensi penetrasi internet yang kian tinggi dan pasar e-commerce yang besar bahkan diprediksi akan bernilai USD 25 miliar hingga USD 30 miliar, sedangkan pemerintah melalui lembaga terkait mengharapkan kapitalisasi e-commerce Indonesia mencapai USD 135 miliar pada tahun 2020, Data lain dari Redwing memprediksi dalam tiga tahun kedepan pasar e-commerce akan tumbuh 250%..wow..

Pergeseran gaya hidup dan GDP yang terus meningkat serta kemudahan akses internet di kota-kota besar sehingga akan menjadi basic needs merupakan modal utama untuk mengambil ‘kue’ e-commerce,

Namun demikian tantangan yang harus dihadapi ditengah kondisi pasar e-commerce yang sedang menjadi primadona ini harus diantisipasi oleh pelaku pasar Startup maupun UKM, Asean Free Trade Area (AFTA), Konektifitas Internet yang belum merata, rendahnya awareness masyarakat daerah tentang pentingnya internet, munculnya marketplace asing, adanya kekhawatiran masyarakat akan cyber attack adalah beberapa yang harus dicarikan solusinya.

Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah untuk mengantisipasi tantangan tersebut, sudah saatnya bergandengan tangan, meleburkan ego sektoral demi kemajuan bersama, sangat disayangkan apabila market share yang sangat besar ini tidak bisa menjadikan ‘naik kelas’ masyarakat kita, karena pilihannya hanya dua kita atau orang lain.

Sekadar oretan semoga bermanfaat..

 

 

 

Mengapa Milenial Market

Berapa banyak diantara kita yang rela ketinggalan dompet dibanding smartphone? Berapa banyak orang tua yang memilih merk mobil tertentu berdasarkan referensi dari anaknya ? Berapa banyak kaum ‘kekinian’ yang merengek minta jatah pulsa ke orang tuanya atau terpaksa main ke taman kota sekadar untuk mendapatkan wifi gratis kota demi bisa update status atau karena takut dibilang fakir kuota, yah inilah era digital yang acap disebut generasi Z, namun kali ini saya akan coba membincangkan generasi Y alias generasi milenial, ya bukan apa-apa karena saya termasuk generasi ini jadi lebih masuk untuk mengelaborasinya, Im A Millennial.

Generasi Milenial adalah Anak-anak Muda yang lahir antara tahun 1980-1995, populasi dunia terbanyak saat ini dengan persebaran yang merata di setiap negara. Sebuah generasi yang menandai perubahan abad.

Generasi Milenial/understanding this generation saat ini banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan di luar Indonesia khusunya, mereka sangat memahami potensi market yang sangat besar, pasar yang akan segera mendominasi. Berbagai riset mereka lakukan untuk memahami karakter Gen Y ini, Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan keunikan generasi milenial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Selain tidak bisa dilepaskan dari Internet dan hiburan (menghabiskan waktu 18 jam sehari untuk media) generasi ini memiliki perhatian cukup besar terhadap aspek sosial dan mengekspresikan hal tersebut dalam banyak hal.

konsumsi-pekerjaan-219x300

Ada potensi pasar sebesar $1.4 Triliun pertahun pada tahun 2020 yang disumbang oleh Gen Y, 58% dari Total populasi Generasi Milenial suka berbelanja, 20% hobi Wisata, dan 65% hobi kuliner. Ini menunjukan Potensi market yang sangat luar biasa, Sedangkan pengaruh pada sektor perusahaan pada tahun 2025 proporsi SDM mulai entry level, staff dan mid manajemen 75% nya akan diduduki oleh Gen Y. hal seperti ini sebetulnya bisa terlihat di beberapa perusahaan teknologi, Gen Y sudah mendominasi proporsi SDM nya.

MillennialInfographic2_600

Bagaimana dengan Indonesia, dengan total populasi 250 juta jiwa dan diprediksi menjadi 270 juta jiwa di tahun 2025, Negara dengan populasi terbesar keempat ini proporsi Gen Y nya akan melebihi 60% nya negara ini akan menjadi sasaran empuk para produsen dari belahan dunia bersaing ketat dengan para generasi kedua dan ketiga para konglomerat super kaya di Indonesia untuk merebut’hati’ memenangkan persaingan merebut Milenial Market di Tanah Air tercinta.

hmm.. bagaimana dengan kita, tentunya optimisme yang harus di utamakan, ditengah-tengah kondisi anak muda yang ngehek, clicking monkey dimana-mana, kita mempunyai kesempatan, daya saing yang tak kalah dengan mereka, Kita lebih memahami local market dibanding mereka, untuk urusan funding ada puluhan Venture Capital milik konglomerat lokal dengan valuasi Triliunan rupiah semacam Sinar Mas Digital Ventures, Emtek, aCommerce, dsb yang siap memberikan seed funding.

Sudah saatnya menjadi bangsa yang produktif, menjadi market leader di Tanah Air tercinta.

Photo Credit by : Millennial Week

 

 

Business Model Canvas

 

Akhir 2011 suasana kelas sangat berbeda dari biasanya, ada seorang yang luar biasa, Founder sekaligus CEO dari beberapa perusahaan , Business Coach sekaligus mentor dari beberapa pengusaha memberikan materi baru yang isinya ‘Daging’ semua. Beliau mengajarkan sebuah tools yang berguna untuk mendeskripsikan blue print perusahaan, men-define produk, menggali dan membangun ide bisnis. Sebuah perangkat yang belum terlalu familiar di Indonesia pada saat itu,  Berikut saya mencoba menjabarkan alat visual tersebut yang menurut saya sangat berguna untuk entrepreneur yang masih menggunakan pendekatan tradisional untuk mendokumentasikan bisnisnya.

Business Model Canvas (BMC) hasil karya Alexander Osterwalder , sebuah perangkat analisis yang berisi 9 blok framework sederhana untuk mempresentasikan elemen-elemen penting yang terdapat dalam sebuah model bisnis, tools ini sangat berguna untuk para Entrepreneur/Startup Teknologi maupun core business lainnya, banyak yang berpendapat bahwa model bisnis kanvas eksklusif hanya bisa diaplikasikan pada teknologi, tapi menurut saya bisnis lainnya pun bisa menggunakan tools ini untuk mendeskripsikan langkah-langkah basic dalam proses lean startup nya. Metode ini sangat berguna bagi saya untuk menterjemahkan sebuah produk bagaimana produk itu bisa berjalan dan bekerja dengan cara mendesain kemudian mengerucutkan beberapa aspek bisnis menjadi satu startegi bisnis yang utuh sehingga dapat memetakan alur bisnis yang lebih simple dan efektif.

d4c4fc05af26893598da71e101d4b405

Banyak calon Entrepreneur yang mem-validasi ide bisnisnya dengan pendekatan tradisional, memulainya dengan cara menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk  sekadar mencari banyak informasi sebagai bahan penulisan rencana bisnis 40-50 halaman,  berpikir keras sekeras-kerasnya agar produknya reliable, dan biasanya ditengah jalan selalu ada perubahan yang mengharuskan entrepreneur memodifikasi secara signifikan business plan nya, tidak cukup disitu, setelah dijalankan apabila ada sesuatu yang salah maka perubahan puluhan halaman dengan paragraf panjang pun tidak bisa dihindarkan, bahkan ada yang tidak berarti apa-apa pada akhirnya. Tentunya ini sesuatu yang tidak efisien menyebabkan banyak waktu terbuang sehingga kemampuan untuk mendapatkan feedback dari market atau pelanggan atau mitra potensial sangat terbatas karena entrepreneur perlu untuk menyelesaikan semua business plan 40-50 halaman dulu, saya pun pernah mengalami proses yang membosankan tersebut demi untuk menghasilkan sebuah Business Plan Formal yang berorientasikan produk.

BMC cukup mudah dan sederhana untuk dijadikan metode awal dalam memvalidasi ide bagi siapa saja para calon entrepreneur tidak hanya untuk ‘kaum’ Intelektual. BMC membuat entrepreneur mempunyai waktu lebih lama dalam mengeksekusi bisnisnya, bisa tetap fokus pada value creation, dan belajar sebanyak mungkin di tengah-tengah market sehingga tidak buang waktu dalam membuat rencana bisnis puluhan halaman, cukup satu halaman yang mencakup 9 building blocks antara lain:

  • Customer Segments
  • Value Proposition
  • Channel Distribution
  • Customer Relationship
  • Revenue Streams
  • Key Resources
  • Key Activities
  • Key Partners
  • Cost Structure

Ada beberapa pendapat cara memulai men-define model kanvas, ada yang memulai dari Customer segment ada juga yang memulai dari Value Proposition, ini tergantung bagaimana model bisnis yang akan dijalankan. Saya cenderung lebih memilih memetakan BMC dari Costumer Segments terlebih dulu. Untuk lebih jelasnya bagaimana mendeskripsikan kesembilan blok BMC berikut saya lampirkan video, selamat menyaksikan

 

“Be more innovative. Stop wasting People’s time. Be more succesfull”

Tukang Cendol dari Vietnam, Mang Cilok dari Filipina

MEA bukanlah nama kucing imut ataupun nama gadis bunga desa di serial FTV, Asean Economic Community (AEC) yang diIndonesiakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah berlaku 2015 ini dan efektif 276 hari lagi hasil kesepakatan beberapa pemimpin ASEAN untuk membangun kawasan ekonomi bersama untuk saling menguatkan.

di Negara ASEAN lain sebetulnya MEA ini sudah lama didengungkan, Pemerintah berusaha untuk mengakrabkan misi dan tujuan kesepakatan MEA kepada warganya, Thailand misalnya yang mewajibkan beberapa sekolahnya untuk belajar bahasa Indonesia seolah menyadarkan warganya akan potensi market yang sangat besar dari Indonesia, setidaknya ada 250 juta jiwa dengan GDP terbesar.

CA3i-BnUYAAaKjL

Salah satu cara main baru adalah kebijakan Skilled Labour free flow artinya semua masyarakat di ASEAN bebas bekerja lintas negara se-ASEAN dengan mudah tanpa membutuhkan surat ijin atau visa kerja, Engineer, Dokter, Satpam, Debt Collector, Pengemudi Delman, Top Manager dari Indonesia bebas bekerja di Thailand, Singapore dan negara ASEAN lainnya tanpa hambatan, simple. Dan begitupun sebaliknya, tidak hanya posisi strategis perusahaan multi nasional dan big companies di tanah Air yang akan menjadi rebutan tenaga kerja dari negara lain, sub sektor yang menurut mereka dapat mensejahterakan akan di-invasi, ya bisa saja mang Caunky yang keliling komplek berasal dari Vietnam, tukang cendol yang mangkal di sekolahan dari Filipina, sisi positifnya anak sekolahan bisa sambil belajar bahasa asing saat beli cuanky dan cendol.

thai_street_vendor

Semangat dari kesepakatan para pemimpin ASEAN sangat ‘sederhana’ yaitu ingin mengikuti Eropa,  Eropa yang dulu terdiri dari beberapa negara yang sangat terasa batasnya, melebur dalam satu kawasan Uni Eropa, Bahkan Eropa memutuskan untuk satu mata uang. Awalnya ada restriksi dan regulasi yang saling membatasi, dengan adanya MEA hambatan-hambatan tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Implikasi dari berlakunya MEA sangat terasa dalam dunia kerja, pekerja trampil dari Indonesia dengan mudah eksodus ke Singapore, Thailand untuk mendapatkan gaji dolar dan karir yang bagus serta tanggung jawab yang mencakup seluruh pasar ASIA, ini peluang yang harus dimanfaatkan, begitupun dengan perusahaan-perusahaan di Tanah Air mungkin tidak segan membayar gaji tinggi tenaga kerja import yang mempunyai skill mumpuni, produktivitas tinggi, tidak banyak menuntut,  dsb. dan bagaimana dengan nasib jutaan karyawan yang menurut CEO dianggap kalah bersaing, terlalu banyak menuntut, skill yang kurang mumpuni..hmm

Engineer Migas, Ahli IT, Perhotelan mungkin sudah terbiasa berkompetisi dan sukses diberbagai negara, berbeda dengan karyawan yang tidak dipersiapkan untuk berkompetisi dengan Tenaga Asing, skill berbahasa Inggris dan Kompetensi (expert dalam bidang pekerjaan) adalah beberapa solusi yang harus segera terkuasai, ya ini adalah tantangan, dan bukan saatnya untuk menyalahkan pengambil kebijakan..sudah saatnya, (ya meskipun terlambat) para pekerja formal dan informal untuk meningkatkan kapasitas diri agar menjadi rumah di negara kita sendiri, karena pilihannya ada dua kita atau mereka, terlalu ngeri untuk dibayangkan apalagi terjadi yang sebenarnya serbuan jutaan tenaga kerja formal menggantikan posisi tuan rumah, juragan cendol Filipina eksodus ke Indonesia, Bos Siomay dari Thailand invasi ke Tanah Air.

Selamat bekerja dan berkarya

note : Bukan untuk diperdebatkan, tulisan hanya pendapat dari tetangga juragan Siomay.

 

Saatnya Bangun..

250juta jiwa lebih dengan pendapatan perkapita $3,500 dan lebih dari 60% nya merupakan usia produktif, dengan 83 juta jiwa adalah pengguna internet, populasi kelas menengah 74 juta jiwa dan akan terus meningkat setiap tahunnya 9 juta jiwa sampai dengan 2020, GDP terbesar se Asia Tenggara, maka sangatlah pantas ketika tersemat Indonesia merupakan ‘tambang emas’.

ecommerce_211113

Negara tercinta ini mendapatkan predikat salah satu negara dengan pertumbuhan e-commerce terbesar di Asia Pacific, 10,000 unit smartphone satu merk saja bisa habis terjual dalam 11 menit, bahkan merk lain bisa ludes dalam waktu yang lebih singkat, ini menandakan pasar yang sangat potensial di negeri ini, Investor dan Perusahaan Inkubator (VC) papan atas Internasional, startup teknologi, marketplace e-commerce asing saling berinfasi mengambil ceruk pasar di Tanah air, (sepertinya mereka tidak ingin terulang gagal dalam mengambil ‘Pasar baru’ di China), beberapa diantara big companies dan startup bahkan mengalihkan basisnya di Singapura menjadi di Indonesia, mereka eksodus mengalihkan opersionalnya dari negara dengan ekosistem SDM, dukungan pemerintah, kemudahan dalam melakukan bisnis nomor wahid di dunia ke negara nomor ‘sekian’, bahkan tidak terklasifikasi, ya Indonesia tercinta 😦

Sisi positif para pemain teknologi asing ke Tanah Air merupakan suatu peluang sekaligus tantangan bagi startup-startup lokal, Traveloka yang memperoleh pendanaan seri A dari Global Founders Capital , East Venture yang menanamkan modalnya di Berrybenka, Ohdio, ShopDeca, UrbanIndo, Sirclo, Ralali, dan puncaknya adalah Softbank yang mengucurkan dananya sebesar 1,2 T kepada tokopedia cukup membuktikan bahwa startup Indonesia cukup berpengaruh dan berpengetahuan untuk bermain dipasarnya sendiri ditengah kondisi gempuran e-commerce asing yang sudah jauh berpengalaman, meskipun ada beberapa Startup yang gagal, valadoo misalnya.

1393655387

Sayangnya besarnya potensi dan pasar yang sangat potensial di Indonesia belum menjangkau masyarakat secara luas, perputaran uang tetap berputar dikalangan tertentu, masyarakat kelas menengah kebawah belum mempunyai power bargaining, barang konsumer yang laku dipasar e-commerce masih berkutat di produk import, daya saing UKM sebagai penggerak ekonomi belum bisa bersaing di pasar e-commerce, Brand lokal masih menggantungkan bahan bakunya pada import, belum lagi para oportunis yang malah rajin import barang dan di branding merk lokal adalah beberapa ‘tantangan’ yang harus segera diselesaikan agar bisa menjadi masyarakat yang produktif dan mempunyai daya tawar di negara nya sendiri.

Dengan nilai transaksi e-commerce sebesar 130 Triliun (2013) dan  Middle Class and Affluent Consumers yang diprediksi 141 juta jiwa di 2020 sangatlah disayangkan jika peluang ini tidak bisa menaikan taraf hidup masyarakat Indonesia dan mendominasi perputaran uang sehingga beralih kenegara lain. Ciptakan produk, berikan added value, hadirkan diferensiasi produk, pahami keinginan pasar, ramu creative marketing, pelajari Distribution Channel, bangun network, adalah beberapa yang bisa dilakukan untuk ambil bagian dari peluang yang ada didepan mata, demi Nusantara berdaya.

Ayo kita Bangun, saatnya melompat dari skala berfikir individu menjadi skala berfikir ‘Nation’

note : Sekadar oret-oret untuk sekadar mengingatkan diri yang sering lupa dan sedang ambil bagian di niche market