Tukang Cendol dari Vietnam, Mang Cilok dari Filipina

MEA bukanlah nama kucing imut ataupun nama gadis bunga desa di serial FTV, Asean Economic Community (AEC) yang diIndonesiakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah berlaku 2015 ini dan efektif 276 hari lagi hasil kesepakatan beberapa pemimpin ASEAN untuk membangun kawasan ekonomi bersama untuk saling menguatkan.

di Negara ASEAN lain sebetulnya MEA ini sudah lama didengungkan, Pemerintah berusaha untuk mengakrabkan misi dan tujuan kesepakatan MEA kepada warganya, Thailand misalnya yang mewajibkan beberapa sekolahnya untuk belajar bahasa Indonesia seolah menyadarkan warganya akan potensi market yang sangat besar dari Indonesia, setidaknya ada 250 juta jiwa dengan GDP terbesar.

CA3i-BnUYAAaKjL

Salah satu cara main baru adalah kebijakan Skilled Labour free flow artinya semua masyarakat di ASEAN bebas bekerja lintas negara se-ASEAN dengan mudah tanpa membutuhkan surat ijin atau visa kerja, Engineer, Dokter, Satpam, Debt Collector, Pengemudi Delman, Top Manager dari Indonesia bebas bekerja di Thailand, Singapore dan negara ASEAN lainnya tanpa hambatan, simple. Dan begitupun sebaliknya, tidak hanya posisi strategis perusahaan multi nasional dan big companies di tanah Air yang akan menjadi rebutan tenaga kerja dari negara lain, sub sektor yang menurut mereka dapat mensejahterakan akan di-invasi, ya bisa saja mang Caunky yang keliling komplek berasal dari Vietnam, tukang cendol yang mangkal di sekolahan dari Filipina, sisi positifnya anak sekolahan bisa sambil belajar bahasa asing saat beli cuanky dan cendol.

thai_street_vendor

Semangat dari kesepakatan para pemimpin ASEAN sangat ‘sederhana’ yaitu ingin mengikuti Eropa,  Eropa yang dulu terdiri dari beberapa negara yang sangat terasa batasnya, melebur dalam satu kawasan Uni Eropa, Bahkan Eropa memutuskan untuk satu mata uang. Awalnya ada restriksi dan regulasi yang saling membatasi, dengan adanya MEA hambatan-hambatan tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Implikasi dari berlakunya MEA sangat terasa dalam dunia kerja, pekerja trampil dari Indonesia dengan mudah eksodus ke Singapore, Thailand untuk mendapatkan gaji dolar dan karir yang bagus serta tanggung jawab yang mencakup seluruh pasar ASIA, ini peluang yang harus dimanfaatkan, begitupun dengan perusahaan-perusahaan di Tanah Air mungkin tidak segan membayar gaji tinggi tenaga kerja import yang mempunyai skill mumpuni, produktivitas tinggi, tidak banyak menuntut,  dsb. dan bagaimana dengan nasib jutaan karyawan yang menurut CEO dianggap kalah bersaing, terlalu banyak menuntut, skill yang kurang mumpuni..hmm

Engineer Migas, Ahli IT, Perhotelan mungkin sudah terbiasa berkompetisi dan sukses diberbagai negara, berbeda dengan karyawan yang tidak dipersiapkan untuk berkompetisi dengan Tenaga Asing, skill berbahasa Inggris dan Kompetensi (expert dalam bidang pekerjaan) adalah beberapa solusi yang harus segera terkuasai, ya ini adalah tantangan, dan bukan saatnya untuk menyalahkan pengambil kebijakan..sudah saatnya, (ya meskipun terlambat) para pekerja formal dan informal untuk meningkatkan kapasitas diri agar menjadi rumah di negara kita sendiri, karena pilihannya ada dua kita atau mereka, terlalu ngeri untuk dibayangkan apalagi terjadi yang sebenarnya serbuan jutaan tenaga kerja formal menggantikan posisi tuan rumah, juragan cendol Filipina eksodus ke Indonesia, Bos Siomay dari Thailand invasi ke Tanah Air.

Selamat bekerja dan berkarya

note : Bukan untuk diperdebatkan, tulisan hanya pendapat dari tetangga juragan Siomay.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s