Saatnya Bangun..

250juta jiwa lebih dengan pendapatan perkapita $3,500 dan lebih dari 60% nya merupakan usia produktif, dengan 83 juta jiwa adalah pengguna internet, populasi kelas menengah 74 juta jiwa dan akan terus meningkat setiap tahunnya 9 juta jiwa sampai dengan 2020, GDP terbesar se Asia Tenggara, maka sangatlah pantas ketika tersemat Indonesia merupakan ‘tambang emas’.

ecommerce_211113

Negara tercinta ini mendapatkan predikat salah satu negara dengan pertumbuhan e-commerce terbesar di Asia Pacific, 10,000 unit smartphone satu merk saja bisa habis terjual dalam 11 menit, bahkan merk lain bisa ludes dalam waktu yang lebih singkat, ini menandakan pasar yang sangat potensial di negeri ini, Investor dan Perusahaan Inkubator (VC) papan atas Internasional, startup teknologi, marketplace e-commerce asing saling berinfasi mengambil ceruk pasar di Tanah air, (sepertinya mereka tidak ingin terulang gagal dalam mengambil ‘Pasar baru’ di China), beberapa diantara big companies dan startup bahkan mengalihkan basisnya di Singapura menjadi di Indonesia, mereka eksodus mengalihkan opersionalnya dari negara dengan ekosistem SDM, dukungan pemerintah, kemudahan dalam melakukan bisnis nomor wahid di dunia ke negara nomor ‘sekian’, bahkan tidak terklasifikasi, ya Indonesia tercinta ūüė¶

Sisi positif para pemain teknologi asing ke Tanah Air merupakan suatu peluang sekaligus tantangan bagi startup-startup lokal, Traveloka yang memperoleh pendanaan seri A dari Global Founders Capital , East Venture yang menanamkan modalnya di Berrybenka, Ohdio, ShopDeca, UrbanIndo, Sirclo, Ralali, dan puncaknya adalah Softbank yang mengucurkan dananya sebesar 1,2 T kepada tokopedia cukup membuktikan bahwa startup Indonesia cukup berpengaruh dan berpengetahuan untuk bermain dipasarnya sendiri ditengah kondisi gempuran e-commerce asing yang sudah jauh berpengalaman, meskipun ada beberapa Startup yang gagal, valadoo misalnya.

1393655387

Sayangnya besarnya potensi dan pasar yang sangat potensial di Indonesia belum menjangkau masyarakat secara luas, perputaran uang tetap berputar dikalangan tertentu, masyarakat kelas menengah kebawah belum mempunyai power bargaining, barang konsumer yang laku dipasar e-commerce masih berkutat di produk import, daya saing UKM sebagai penggerak ekonomi belum bisa bersaing di pasar e-commerce, Brand lokal masih menggantungkan bahan bakunya pada import, belum lagi para oportunis yang malah rajin import barang dan di branding merk lokal adalah beberapa ‘tantangan’ yang harus segera diselesaikan agar bisa menjadi masyarakat yang produktif dan mempunyai daya tawar di negara nya sendiri.

Dengan nilai transaksi e-commerce sebesar 130 Triliun (2013) dan  Middle Class and Affluent Consumers yang diprediksi 141 juta jiwa di 2020 sangatlah disayangkan jika peluang ini tidak bisa menaikan taraf hidup masyarakat Indonesia dan mendominasi perputaran uang sehingga beralih kenegara lain. Ciptakan produk, berikan added value, hadirkan diferensiasi produk, pahami keinginan pasar, ramu creative marketing, pelajari Distribution Channel, bangun network, adalah beberapa yang bisa dilakukan untuk ambil bagian dari peluang yang ada didepan mata, demi Nusantara berdaya.

Ayo kita Bangun, saatnya melompat dari skala berfikir individu menjadi skala berfikir ‘Nation’

note : Sekadar oret-oret untuk sekadar mengingatkan diri yang sering lupa dan sedang ambil bagian di niche market

 

 

 

 

 

7 Haji

Haji udung, Haji Idi, Haji Entis, Haji Yusup, Haji Usen, Haji Roni, Haji Amidi, Bapak-bapak haji inilah yang sejatinya kami temui ketika  akan menjajaki proyek Agritourism berskala Internesyenel di teritori Subang Jawabarat. Kawasan terintegrasi yang terdiri dari Bungalow, Country Club, Education city, Research Institute, Peternakan, dan Pertanian Organik yang berbaur dengan masyarakat dengan tetap mempertahankan local wisdom layaknya Milford Sound di Selandia Baru. Tapi bukan konsep Agri ini yang akan saya coba persepsikan.

ilustrasi-Haji-520x245

Haji, ya empat kata ini¬† yang mampu menaikan ‘strata’, juragan-juragan di pedesaan sudah sangat lumrah dan familiar memakai gelar ini untuk sapaan maupun penulisan di surat undangan, Rukun Islam kelima yang paling ‘berat’ dalam memaknainya karena dianggap sudah mampu mengimplementasikan Rukun Islam ke satu sampai keempat.

Hujjaj bentuk Plural dari Haji yang berarti orang-orang menziarahi, mengunjungi, tentu saja yang dikunjunginya adalah bangunan-bangunan yang sarat akan makna spritual yang dapat menambah ketakwaan dan kemurnian jiwa berlipat-lipat bagi orang yang memaknai makna spiritual dari bangunan-bangunan sejarah yang didatanginya, Ka’bah, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, Muzdalifah adalah beberapa diantaranya.

Ka’bah sebagai simbol persatuan umat, Shafa dan marwah sebagai saksi sejarah perjuangan seorang Ibu yang tanpa lelah, tanpa putus asa, berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anaknya, Wukuf di Arafah yang bermakna ma’rifah berdiam dan introspeksi mengenal diri sendiri, menghilangkan rasa ‘keakuan’, merasakan unsur Ruh Ilahi didalam diri, memahami tujuan hidup di Bumi yang fana ini, Lempar Jumroh di Mina sebagai simbol ‘melemparkan’ sifat-sifat setan yang ada di Jiwa, Mabit di Muzdalifah yang merupakan simbol rasa Syukur, merasakan keAgungan dan Kebesaran Allah SWT, meresapi sepenuh hati bahwa hanya Allah SWT yang menguasai Alam Semesta, seluruh Dimensi.

Sebegitu ‘dalam’nya makna berhaji, pantas saja saat masa Pemerintah Kolonial Belanda¬† mangharuskan penyematan gelar Haji didepan nama orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji dan kembali ke Tanah Air, bahkan mengkhususkan gerbang utama jalur lalulintas penghajian di Indonesia guna mengawasi dan memantau gerak-gerik aktivitas orang-orang yang sudah berangkat ke Mekah, sepertinya Belanda memahami makna spiritual yang terkandung di pelaksanaan Ibadah Haji¬† dan mereka cukup dibuat ketir oleh tokoh-tokoh pembawa perubahan di Nusantara sepulang berhaji, oleh karenanya penyematan gelar ‘H’ memudahkan mereka melacak orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

20-jalan-sufi-65-638

Bagaimana dengan sekarang, hmm ada 150.000 orang lebih yang berangkat Haji saban tahunnya dari Tanah Air, terbanyak dari semua Negara di Bumi ini,  tidak terbayang besarnya PERUBAHAN yang dibawa ke Tanah Air oleh para Haji yang telah meresapi, memaknai simbol-simbol Spiritual kehajiannya yang kemudian ditularkan kepada Masyarakat indonesia lainnya.., tapi..ya  semoga saja saya yang memang tidak terlalu peka merasakan perubahan yang terjadi.

Unik memang dari sejumlah Negara hanya Indonesia dan negara tetangga yang menyematkan gelar H didepan namanya, tradisi yang sudah berkembang secara evolutif dan tidak untuk disalahkan, ya anggap saja sebagai warisan Budaya, budaya kolonial lebih tepatnya ūüėČ yang pasti ber Haji adalah sebuah manifestasi puncak ketaatan kepada sang Maha Pencipta, bukti Pengabdian diri kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta Allah SWT, dan yang terpenting bagaimana agar¬†makna besar spiritual berhaji bisa terimplan, terimplementasikan untuk Perubahan besar terjadi di Nusantara ini, Semoga saja.

Note : Edisi Sok Alim Mood